YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta memperkuat kolaborasi dalam penataan kawasan permukiman melalui program Satu Kampung Satu Arsitek. Inisiatif tersebut menjadi pembahasan utama dalam talkshow yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (23/7/2026).
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan pembangunan kota harus berangkat dari penguatan kualitas kampung sebagai ruang hidup masyarakat. Menurutnya, kampung bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan pusat tumbuhnya nilai sosial, budaya, kreativitas, dan kemandirian warga.
“Kampung bukan hanya ruang hunian, tetapi ruang kehidupan. Kalau kampungnya baik, maka kotanya juga akan berkembang dengan baik,” ujar Hasto.
Ia menambahkan, Yogyakarta memiliki identitas budaya yang kuat sehingga setiap upaya penataan lingkungan harus tetap menjaga karakter lokal. Karena itu, program Satu Kampung Satu Arsitek diharapkan mampu menghadirkan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, sekaligus memiliki kualitas estetika yang mencerminkan jati diri kota.
Hasto juga menyoroti penataan kawasan sungai yang tengah dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta. Berbagai langkah telah ditempuh, mulai dari pembersihan bantaran sungai hingga pemasangan 27 jaring sampah untuk menahan sampah kiriman dari wilayah hulu sebelum memasuki kawasan Kota Yogyakarta.
Menurutnya, setelah persoalan kebersihan dapat ditangani, tahap selanjutnya adalah menghadirkan sentuhan desain yang mampu menghidupkan ruang publik tanpa mengabaikan fungsi ekologis sungai.
“Kalau sungainya sudah bersih, berikutnya perlu sentuhan dari para arsitek agar menjadi ruang publik yang menarik tanpa meninggalkan fungsi ekologisnya,” katanya.
Ia menilai keberhasilan pembangunan kota tidak hanya ditentukan oleh penataan kawasan utama seperti Malioboro, tetapi juga kualitas lingkungan di setiap kampung dan bantaran sungai. Oleh karena itu, sinergi pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Pemerintah Kota Yogyakarta berharap kolaborasi tersebut dapat menjadikan Yogyakarta sebagai rujukan nasional dalam penataan kampung berbasis budaya, keberlanjutan, dan partisipasi masyarakat.
Sementara itu, Ketua IAI DIY Erlangga Winoto menyatakan organisasinya siap mendukung penuh pelaksanaan program tersebut. Ia menjelaskan konsep Satu Kampung Satu Arsitek dianalogikan sebagai “Soko Sekar”, yakni perpaduan antara kekuatan struktur dan nilai keindahan dalam filosofi Jawa.
Menurut Erlangga, arsitek tidak hanya bertugas menciptakan bangunan yang menarik secara visual, tetapi juga memastikan aspek fungsi, keamanan, dan keberlanjutan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai bentuk komitmen, IAI DIY akan menyiapkan sekitar 500 arsitek untuk mendampingi penataan kampung di Kota Yogyakarta. Selain itu, sebanyak 14 perguruan tinggi yang memiliki program studi arsitektur di Yogyakarta akan dilibatkan sebagai mitra pendamping di setiap kemantren melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.