Parkir QRIS di Solo Mulai Berjalan, Pemahaman Jukir tentang Setoran Belum Seragam
SOLO – Penerapan pembayaran parkir melalui QRIS di Kota Solo masih menghadapi kendala sosialisasi dan pemahaman petugas. Sejumlah juru parkir di Jalan Slamet Riyadi mengaku belum banyak menerima transaksi nontunai, sementara penjelasan mereka mengenai alur penyetoran dan pembagian hasil belum seragam.
Program digitalisasi parkir tersebut diluncurkan Wali Kota Solo Respati Ardi melalui Dinas Perhubungan pada Jumat (18/9/2026). Pembayaran dengan memindai kode QRIS diperkenalkan di ruas jalan, terutama jalan protokol, sekaligus untuk menekan keberadaan juru parkir liar yang menarik tarif melebihi ketentuan.
Berdasarkan laporan Kompas.com pada Senin (28/9/2026), transaksi dapat dilakukan dengan memindai kode QRIS menggunakan ponsel. Pembayaran terkonfirmasi dalam hitungan detik. Tarif sepeda motor pada lokasi yang dicoba sebesar Rp2.000, sama dengan pembayaran tunai.
Juru parkir peserta program menggunakan topi, rompi kuning keemasan, dan kartu identitas. Kode QRIS juga dibawa petugas agar dapat dipindai oleh pengendara.
Wahyudi (57), yang bertugas di depan toko roti Harvest, Jalan Slamet Riyadi Nomor 330, mengatakan pembayaran tunai masih mendominasi. Selama sekitar sepekan menggunakan QRIS, ia baru melayani satu hingga dua pengendara dengan metode tersebut.
“Belum (banyak yang pakai). Belum sosialisasi (belum semua masyarakat tahu) semua,” ujar Wahyudi kepada Kompas.com.
Wahyudi juga mengaku diminta menyediakan Rp50.000 untuk pembukaan rekening. Mengenai penyetoran, ia menyebut adanya proses penarikan uang melalui ATM sebelum dana disetorkan kepada Dishub.
Kendala pemahaman turut disampaikan Agung (55), juru parkir di sekitar SMP Bintang Laut. Meski sudah mengenakan rompi program, pria yang telah bekerja selama 17 tahun itu mengaku belum memahami pengurusan rekening, penyetoran, serta pembagian pendapatan.
Agung menjelaskan bahwa pendapatan parkir yang dikumpulkannya tetap harus disetorkan kepada pengelola atau pemborong yang menaunginya.
Sementara itu, Sugiyar, juru parkir di depan Toko Roti Miss, menyebut pembayaran QRIS lebih banyak digunakan kalangan muda. Menurut keterangannya, dana masuk ke rekening pribadinya di Bank Jateng dengan pemotongan yang ia sebut sebagai pajak sebesar 10 persen.
Keterangan Sugiyar berbeda dengan penjelasan Wahyudi mengenai penyetoran. Ketiga jukir tersebut sama-sama menyatakan bahwa penggunaan QRIS belum memberikan dampak yang signifikan pada tahap awal penerapannya. Pembayaran tunai dan nontunai masih berjalan berdampingan.

RIPPARKOT 2026–2045 Disusun, Pemkot Yogyakarta Selaraskan Program Pariwisata Lintas Sektor
Bali Tech Week 2026 Perkuat Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Perguruan Tinggi
KPK Pelajari Digitalisasi Pemkot Yogyakarta untuk Pengembangan Pusat Data dan Analitik
AI Perluas Peran Teknologi dalam Pembinaan Atlet dan Analisis Pertandingan
ISS 2026 Catat Perputaran Ekonomi Lebih dari Rp17 Miliar dan Lima Kesepakatan Bisnis
Membaca OTT Bupati Klaten di Media Sosial: Ujian bagi Kepercayaan Publik