Pemkot Yogyakarta Gelar Lomba Kampung Tangguh Pangan 2026, Dorong Inovasi Pertanian Terpadu di Kawasan Perkotaan
YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan akan menggelar Lomba Kampung Tangguh Pangan Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat. Program ini juga ditujukan untuk mendorong inovasi pemanfaatan lahan terbatas di kawasan perkotaan melalui sistem pertanian terpadu atau integrated farming.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, mengatakan lomba tersebut bukan sekadar ajang kompetisi antarkampung, melainkan bagian dari strategi pemerintah dalam membangun budaya ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Menurutnya, keterbatasan lahan pertanian di Kota Yogyakarta tidak menjadi hambatan bagi masyarakat untuk menghasilkan pangan secara mandiri. Pemanfaatan pekarangan rumah, lahan kosong, maupun ruang-ruang produktif lainnya dinilai mampu mendukung ketersediaan pangan keluarga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau.
“Melalui konsep integrated farming, masyarakat didorong mengembangkan tanaman pangan, peternakan skala kecil, dan perikanan dalam satu sistem yang saling mendukung,” ujar Sukidi, Senin (3/8/2026).
Ia menambahkan, program tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan, memperkuat semangat gotong royong, serta menciptakan kampung yang sehat dan berkelanjutan.
Lomba akan diikuti oleh seluruh kemantren di Kota Yogyakarta. Setiap kemantren mengirimkan satu kampung sebagai peserta sehingga terdapat 14 kampung yang mengikuti proses penilaian. Masing-masing peserta dapat mengajukan satu hingga tiga lokasi yang akan dinilai oleh tim juri.
Tahapan kegiatan telah diawali dengan penyampaian petunjuk teknis pada 1 Juli 2026, dilanjutkan pendaftaran peserta secara daring pada 6–31 Juli 2026. Penilaian lapangan dijadwalkan berlangsung pada 5, 6, 11, 12, dan 13 Agustus 2026, sedangkan pengumuman pemenang akan dilakukan pada bulan yang sama.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh oleh tim yang terdiri atas praktisi dan pegiat ketahanan pangan keluarga. Aspek yang dinilai meliputi penerapan sistem integrated farming, kebersihan dan kerapian lingkungan, pemanfaatan hasil produksi, serta partisipasi aktif masyarakat.
Selain teknik budidaya pertanian, peternakan, dan perikanan, inovasi seperti hidroponik, smart farming, hingga sistem irigasi sederhana turut menjadi perhatian. Juri juga akan menilai pengelolaan limbah, keberagaman hasil panen, administrasi kelompok, serta kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Sebagai bentuk apresiasi, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menyiapkan trofi, piagam, dan uang pembinaan. Juara I akan menerima Rp5 juta, Juara II Rp4,5 juta, Juara III Rp4 juta, Juara Harapan I Rp3,5 juta, dan Juara Harapan II Rp3 juta.
Sukidi berharap lomba ini mampu melahirkan lebih banyak kampung yang menjadi contoh dalam membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat. Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari penentuan pemenang, tetapi juga dari keberlanjutan gerakan pemanfaatan pekarangan dan pertanian terpadu sebagai budaya yang mengakar di tengah masyarakat.

Karang Taruna Kota Yogyakarta Dikukuhkan, Siap Perkuat Peran Pemuda
Kemantren Kraton Raih Juara Festival Babad Siti Kemantren #4
Bima Arya Dorong Pemda Hadirkan Event Kreatif, Efisien, dan Berdampak
Kota Yogyakarta Peringkat Pertama Nasional SPM Pendidikan 2026
Pemerintah Larang Kuota Internet Hangus, Hak Pelanggan Wajib Dilindungi
DPRD Surakarta Usulkan Raperda Pelarangan Vape Masuk Propemperda 2027