Pemkot Yogyakarta Percepat Pembangunan Biopori Jumbo, Targetkan 1.000 Titik pada Akhir 2026
YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis wilayah melalui pembangunan biopori jumbo. Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 286 titik biopori jumbo telah terbangun dari target 400 titik yang ditetapkan tahun ini.
Perkembangan tersebut disampaikan dalam rapat dinas yang digelar di Ruang Bima, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Senin (6/7/2026). Rapat dipimpin langsung oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan didampingi Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program pemerintah daerah selama semester pertama tahun 2026.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengatakan masih terdapat kekurangan 114 titik biopori jumbo yang ditargetkan dapat diselesaikan pada triwulan berikutnya.
“Pada tahun 2026 ini akan dibangun 400 titik biopori jumbo. Sampai per 30 Juni 2026 sudah terbangun 286 titik, sehingga masih kurang 114 titik lagi,” ujarnya.
Rajwan menjelaskan, jika target pembangunan tahun ini tercapai, maka jumlah biopori jumbo di Kota Yogyakarta akan mencapai 1.000 titik. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari 600 titik yang dibangun pada 2025 dan tambahan 400 titik pada tahun berjalan.
Menurutnya, keberadaan biopori jumbo menjadi salah satu instrumen penting dalam mengurangi timbulan sampah organik dari sumbernya. Sistem ini juga mendorong pengelolaan sampah yang lebih terdesentralisasi karena sampah organik dapat diolah langsung di wilayah masing-masing.
DLH Kota Yogyakarta juga mencatat panen biopori jumbo telah dilakukan di 200 titik yang tersebar di 37 kelurahan. Hasil penguraian sampah organik tersebut kemudian diolah menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan untuk penghijauan, pemeliharaan taman, hingga mendukung pertanian perkotaan.
Menanggapi capaian tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi kinerja DLH dalam menangani persoalan sampah. Ia menyebut pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta menunjukkan perkembangan signifikan, bahkan selama tiga bulan terakhir seluruh sampah telah habis dikelola di wilayah tanpa dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
“Sudah tiga bulan ini sampah di Kota Yogyakarta habis di wilayah. Kita sudah tidak mengirimkan sampah ke TPA Piyungan,” kata Hasto.
Meski demikian, Hasto meminta pembangunan biopori jumbo terus diperluas, termasuk di kawasan pasar tradisional yang menghasilkan volume sampah organik cukup besar setiap hari.
“Terkait biopori jumbo, saya minta juga dibuat di area pasar tradisional. Ini harus menjadi perhatian bersama agar pasar juga bisa menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang lebih baik,” tegasnya.

Pemkot Yogyakarta Gandeng IAI DIY Wujudkan Program Satu Kampung Satu Arsitek
Hasto Ajak Ratusan Mahasiswa Bersihkan Sungai Code, Perkuat Gerakan Lingkungan Berbasis KKN
Pemkot Yogyakarta Bentuk Tim Pengawasan Perizinan untuk Perkuat Kepastian Berusaha
Hasto Wardoyo Dorong Perluasan Air Perpipaan, Perkuat Kualitas SDM Yogyakarta
Pemkot Yogyakarta Perkuat Fasilitas Pesepeda, Hasto Wardoyo Dorong Kolaborasi dengan Komunitas
Merti Kampung Celeban Hidupkan Tradisi Budaya, Warga Lestarikan Bregada dan Jemparingan