Merti Kampung Bangunrejo ke-10, Tradisi Budaya dan UMKM Putar Ekonomi Rp92 Juta
TEGALREJO – Tradisi Merti Kampung kembali menjadi perekat kebersamaan warga Kampung Bangunrejo RW 13, Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Memasuki penyelenggaraan ke-10 pada tahun ini, Merti Kampung mengusung tema “Sedasawarsa Ruwat, Rawat, Rawit” sebagai wujud komitmen masyarakat dalam merawat budaya, menjaga lingkungan, sekaligus menggerakkan perekonomian warga.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut mencapai puncaknya pada Minggu (28/6/2026). Selain menjadi ungkapan rasa syukur, Merti Kampung juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan berbagai potensi seni, budaya, dan produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengapresiasi konsistensi warga Kampung Bangunrejo yang selama satu dekade terus mempertahankan tradisi tersebut.
“Sepuluh kali berturut-turut bukan hal yang mudah. Artinya masyarakat memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga tradisi, menjaga kebersamaan, dan menjaga kampungnya,” ujar Hasto.
Menurutnya, Merti Kampung menjadi bagian penting dalam upaya melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya kawasan sungai.
“Ini menjadi bagian dari melestarikan budaya, juga melestarikan lingkungan sungai. Sesepuh, pinisepuh sampai anak-anak turut serta. Semoga ini bisa terus berkelanjutan, apalagi Kricak sudah menjadi Kelurahan Budaya di Kota Yogyakarta,” katanya.
Hasto menilai pelestarian budaya akan semakin kuat apabila mampu melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, tradisi seperti Merti Kampung perlu terus dipertahankan sebagai ruang pembelajaran dan sarana mempererat hubungan antargenerasi.
Ketua RW 13 Kampung Bangunrejo, Haryanto, mengatakan penyelenggaraan tahun ini memiliki makna yang lebih istimewa karena bertepatan dengan penetapan Kelurahan Kricak sebagai Kelurahan Budaya setelah sebelumnya berstatus rintisan kampung budaya.
“Status Kelurahan Budaya ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah bagi kami. Masyarakat ingin membuktikan bahwa budaya tidak hanya dilestarikan melalui pertunjukan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Haryanto.
Berbagai kegiatan memeriahkan Merti Kampung tahun ini, di antaranya penampilan seni tari dari enam kontingen, bazar UMKM yang diikuti 36 stan, serta pelepasan benih ikan di Sungai Winongo sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem sungai.
Antusiasme masyarakat juga memberikan dampak positif bagi perekonomian warga. Selama empat hari pelaksanaan, bazar UMKM berhasil mencatatkan perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp92 juta.
“Alhamdulillah perputaran ekonomi selama pelaksanaan Merti Kampung sangat baik. Ini menunjukkan kegiatan budaya juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Harapannya ke depan pelaksanaannya semakin baik dan manfaatnya semakin luas,” tutup Haryanto.

Karang Taruna Kota Yogyakarta Dikukuhkan, Siap Perkuat Peran Pemuda
Kemantren Kraton Raih Juara Festival Babad Siti Kemantren #4
Bima Arya Dorong Pemda Hadirkan Event Kreatif, Efisien, dan Berdampak
Kota Yogyakarta Peringkat Pertama Nasional SPM Pendidikan 2026
Pemerintah Larang Kuota Internet Hangus, Hak Pelanggan Wajib Dilindungi
DPRD Surakarta Usulkan Raperda Pelarangan Vape Masuk Propemperda 2027