Delapan SPPG di Solo Ditutup Sementara, Pemkot Dukung Langkah BGN
SOLO – Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani mendukung langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang menutup sementara delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Solo akibat belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai standar.
Menurut Astrid, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan dan standardisasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sebagaimana mestinya. Ia menilai setiap SPPG wajib memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan demi menjaga kualitas layanan kepada masyarakat.
“Ini menandakan bahwa standardisasi memang dijalankan. Ketika ada yang belum sesuai dengan standar, tentu harus dilakukan penyesuaian,” kata Astrid, Sabtu (6/6/2026).
Astrid menegaskan pemerintah daerah sebagai pelaksana program memiliki tanggung jawab melakukan pengawasan terhadap seluruh SPPG. Jika ditemukan fasilitas atau operasional yang tidak memenuhi standar, hasil pengawasan tersebut harus disampaikan dan ditindaklanjuti.
Ia menilai keputusan BGN untuk menghentikan sementara operasional SPPG yang belum memenuhi persyaratan merupakan langkah positif dalam menjaga kualitas pelaksanaan program MBG.
“Artinya ada standar yang harus dicapai oleh masing-masing SPPG agar pelayanan kepada masyarakat dalam program MBG dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Astrid berharap momentum pergantian kepemimpinan di BGN dapat memperkuat komitmen penerapan standar secara merata di seluruh daerah. Menurutnya, penerapan standar tidak cukup hanya di tingkat pusat, tetapi juga harus konsisten hingga ke daerah-daerah yang memiliki tantangan lebih kompleks.
Ia mengakui menjaga kualitas dan standardisasi di wilayah perkotaan seperti Solo relatif lebih mudah dibandingkan daerah kabupaten atau wilayah terpencil yang memiliki kondisi geografis dan infrastruktur berbeda.
Selain penguatan aspek teknis dan pengawasan, Astrid juga berharap program MBG dapat terintegrasi dengan penguatan ekonomi kerakyatan. Salah satunya melalui optimalisasi distribusi bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan dapur-dapur SPPG.
Menurut dia, pasokan bahan pangan bagi program MBG tidak seharusnya hanya bergantung pada perusahaan besar. Keterlibatan petani dan pelaku usaha lokal dinilai penting agar manfaat program tidak hanya dirasakan penerima makanan bergizi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah.

RIPPARKOT 2026–2045 Disusun, Pemkot Yogyakarta Selaraskan Program Pariwisata Lintas Sektor
Bali Tech Week 2026 Perkuat Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Perguruan Tinggi
KPK Pelajari Digitalisasi Pemkot Yogyakarta untuk Pengembangan Pusat Data dan Analitik
AI Perluas Peran Teknologi dalam Pembinaan Atlet dan Analisis Pertandingan
ISS 2026 Catat Perputaran Ekonomi Lebih dari Rp17 Miliar dan Lima Kesepakatan Bisnis
Membaca OTT Bupati Klaten di Media Sosial: Ujian bagi Kepercayaan Publik